In this holiday, aku ikut 2 agenda magang. Yang satu diadakan sama Kelompok Minat Profesi Veteriner Unggas dan Burung (KMPV UBUR) yang satu magang mandiri di Nongkojajar. Nah… Yang magangnya ubur baruuuuuu aja selesai. Jadi, sekarang ini aku mau ceritain yang magang Ubur dulu…
Perjalanan berangkat…
Kami dapet tempat magang di Farm Wadeng Gresik mulai tanggal 5-11 Juli 2012. Kami berangkat dari Surabaya tanggal 5 sekitar jam 7 lah… Itu pun udah telat banget karena rencananya kami akan mulai magang jam setengah 8. Hahahaha. Kami semobil nunggu beberapa menit karena katanya ada yang ngejemput. Setelah Pak Slamet -yang lebih cocok dipanggil mas- datang menjemput kami langsung cus ke lokasi. Inilah jalanan yang kami tempuh utuk mencapai lokasi:

Serem?? Yup! Serem gilak! Jalanannya masih tanah dan berombak-ombak gitu… Pikiranku mulai kemana-mana, tempat magangnya pasti jauh dari peradaban…
Beberapa saat kemudian, kami sampai di lokasi. Nggak ada yang istimewa dari pintu pagernya. Yang istimewa, adalah ini:

Ini adalah suasana dalam mobil ketika mobil disemprot pake desinfektan. Kalo peternakan ayam emang gini, dikit-dikit musti desinfeksi. Ini demi ayamnya, karena ayam itu agak peka. Dan bayangin aja, di dalam setiap kandang ada 26.000 ekor ayam, kalo kita sampe bawa kuman mematikan dari luar apa yang terjadi sodara-sodara? Tanyakan pada bulu yang terlepas….
Dan setelah nyemprot mobil, giliran kita yang disemprot. Disemprotnya disini:

Oh well, buatku ini spektakuler! Canggih gitu sodara-sodara!
Tempat tinggal sih boleh di kota besar macem Surabaya, tapi jiwa tetep udik. Aku masih aja amazed bahkan setelah berbasah-basah nglewatin labirin biosecurity ini.
Lanjut ke mess-nya. Bayanganku sih Gresik panas. Dan dengan berbekal pengalaman magang yang lalu, aku nggak naruh harapan terlalu tinggi sama mess ini. Apalagi kita nggak ditarik biaya sewa mess, cuma makan doang 50 ribu.
Etapinya, pas masuk di mess-nya, aku ngerasa adem. Dan pas aku noleh ke tembok, ada ini:

Uaaaapppuuuuaaaaaaa???? Kamarnya ber-AC???? Kok enak gini???
Dan keenakan ini terus berlanjut. Kasur empuk, kita di kasih bantal, kamar mandi dalam. Baru beberapa menit di kamar aja, ada orang yang nganter melon. Iki magang cap opo sakjane…
Pengalaman dan Pembelajaran Soal Ayam
Ini adalah peternakan ayam petelur (layer), tapi nggak sampe fase layer sih, cuma sampe 13 minggu, itu berarti sampe fase grower. Ayam yang dipelihara berasal dari strain ISA Brown. Kalo temen-temen masih gelap yang mana itu ISA Brown, ini ada gambarnya:

Ini bukunya dipinjemin sama Mas Anjar. Siapa itu Mas Anjar? Kita kenalan nanti.
Balik lagi ke ayam. Jadi ayam ini betinanya berwarna coklat dan jantannya berwarna putih. Tapi, ada juga yang begini:

Ini disebutnya ayam banci, karena secara fisik dan fisiologisnya cowok, tapi bulunya coklat kayak ayam betina. Dan ayam ini baguuuuuuuuuuuuus banget! Bulunya mengkilap, lembut, posturnya juga bagus.
Ini kami temukan di kandang 4 yang berisi ayam 13 minggu.
Oh ya! Ngomongin soal kandang…

Bangunan ini namanya Twin. Nggak jelas, ya? Ya udah…
Satu twin ini isinya 2 kandang, setiap kandang berukuran 150x12 meter dan berisi 26.000 ekor ayam. Jadi satu twin isinya 52.000 ekor ayam dan disini ada 3 twin. Satu twin kosong, dan pas kita pulang kandang 3 (twin kedua, yang kosong twin 1 yaitu kandang 1-2) udah kosong, sementara kandang 4 masih ada beberapa ayam afkiran.
Kandangnya pake sistem closed house. Maksudnya, lingkungan di dalam kandang bisa disesuaikan.

Yang aku pegang ini adalah ayam berusia 8 minggu dan ini jantan… Kenapa bisa ada pejantan ditengah puluhan ribu betina? Bukan, ini bukan kesalahan saat proses sexing. Tapi farm ini emang sengaja mesen pejantan, kurang lebih 50 ekor di setiap kandang. Gunanya, untuk konsumsi pekerja sini. Nah, kalo yang banci, itu baru kesalahan sexing. Ayam cakep itu juga akan berakhir di piring. Dan kami juga sempat merasakannya.
Disana kami juga diajarkan tentang proses Brooding. Dan maap banget, karena pada saat kami dateng DOC-nya (Day Old Chick, ayam kecil) udah berubah jadi ayam gede, jadi yang bisa aku bagi disini adalah bayangannya aja.
Proses Brooding membutuhkan Brooder, yang secara harfiah berarti indukan. Nah, disini, broodernya berukuran panjang 2 cagak dan lebar 1 cagak. 1 cagak itu sekitar 4 meter. Dan setiap 3 hari sekali selama 21 hari, lebarnya akan ditambah setengah meter untuk menyesuaikan kepadatannya. Satu brooder akan berisi 1500 ekor ayam. Jadi… Bisa ngitung kepadatan, kan? Sama persis kayak ngitung kepadatan penduduk kok! Jumlah populasi per luas area.
Satu brooder akan berisi 16 bell drinker, 20 feeder tray, dan 2-3 gasolec. Seiring dengan pelebaran brooder, feeder tray akan bertambah 2, ini juga karena menyesuaikan kepadatan.
Sekarang, kita kenalan dulu sama elemen kandangnya…

Yang ini namanya Cooling Pad. Fungsinya untuk menyesuaikan suhu dan kelembapan.

Kalo yang ini namanya Cooling Net. Fungsinya sama kayak Cooling Pad, cuma bentuknya aja yang beda.
Kalo Cooling Pad dialirin air dari atas, kalo Cooling Net disemprotin air, semuanya otomatis dan diatur oleh:

Temptron. Otaknya alat-alat di kandang macem Blower dan Cooling pad/net. Ini adalah regulator dan punya sensor dibawahnya:

Sekarang, kita kenalan sama elemen lainnya…

Yang ditunjuk pake panah merah itu namanya bell drinker. Fungsinya buat minum rame-rame… Katanya sih ini untuk ayam kecil. Kalo yang nipple (ada pipa disebelah kirinya, kan? Itu ada nipple2nya) untuk ayam yang agak gedean. Tapi kata Pak Slamet, ini kurang tepat. Kalo berdasarkan pemikiranku sih, mungkin supaya ayam2nya nggak berebut minum.

Kalo yang ditunjuk pake panah merah disini, namanya Hillow pand… Kalo nggak salah nulis. Supaya nggak salah pengertian, kita sebutnya Feeder pan aja, ya…

Kurang lebih penampangnya kayak gini.
Nah, diatas feeder pan ini kan ada pipa. Pipa ini nyambung sama alat penampung pakannya.

Itu yang ditunjuk pake panah merah adalah tempat pakannya dituang. Nggak keliatan? Ya udah. Intinya, begitu pakan dimasukkan ke situ, listrik dinyalakan, dan sekrup gede di dasar alat tersebut akan mengalirkan pakan melalui pipa, lalu keluar ke feeder pan-nya. Itu cara kerjanya.

Kalo yang kuning2 itu namanya feeder tube. Ini bukan gambar dari Farm Wadeng. Aku dapet ini dari internet…
Di langit-langit kandang di bagian tepi tergantung terpal-terpal hitam yang disebut Deflector. Gunanya supaya udaranya nggak ke atas, tapi juga ke bawah, jadi ayamnya nggak kepanasan.
Dibagian Brooding tadi kan ada kata-kata Feeder Tray dan Gasolec. Sekarang kita kenalan sama alatnya, yaa…

Yang ini namanya feeder tray. Pakannya ya langsung di taruh aja di situ…


Yang ini Gasolec a.k.a alat pemanas pada masa brooding. Alat ini akan tersambung dengan LPG via selang-selang dan di pasang sejajar dada orang dewasa untuk ngangetin ayam. Satu lagi… Alat ini berat boookkk…
Sekarang kita ke bagian luar.


Ini alat pengatur beberapa alat semacam lampu, hillow pand, dll…
Kita liat ke belakang kandang dulu, yuk!

Di sistem close house, hukumnya wajib punya blower. Nah, blower di satu kandang ada 6. Ini ada itungannya sendiri, tapi sekali lagi, aku nggak nyatet detailnya…
Yang jaring-jaring warna putih mbulak itu namanya Waring. Fungsinya adalah meminimalisir kontaminasi lingkungan.

Liat ada semacam tunggu pada gambar di atas? Nggak? Kalo nggak, bayangin aja ada bentuk setengah bola yang bolong dan terbuat dari logam. Tempat ini adalah tempat membakar ayam afkir yang diafkir karena sakit.
Satu alat yang sangat penting dalam dunia persilatan eh peternakan adalah ini:


Inilaaaaaaaaaahhh…. #suaradrum Debeaker!!!
Cara kerjanya, petugas duduk, megang DOC, terus paruhnya DOC dimasukkan ke lubang (gambar bawah, panah orange), si petugas nginjek pedal (gambar atas, panah biru), terus besi yang ditunjuk pake panah ijo di gambar bawah akan turun memotong paruh ayam tersebut. Besi ini panas. Dan regulator panasnya yang ditunjuk pake panah ungu.
Fungsi dari proses debeaking ini ada 2, yaitu: supaya nggak terjadi kanibalisme, sama efesiensi pakan. Sebenernya ada satu lagi yaitu memengaruhi suhu. Tapi nggak tau itu gimana. Jadi mendingan nggak tak tulis…. Emaap… Udah terlanjur, ya?

Ini rupa DOC yang debeaked… Kasian? Ini untuk kebaikan mereka juga, kok!
Alas kandangnya diisi dengan sekam. Katanya, untuk 1 kandang, sekam yang dibutuhkan bisa 500-650 sak! Huwaaaaaw…
Sekam ini nggak akan diganti sebelum kandang kosong. Jadi sekalinya dijadikan alas, bakal jadi alas mulai si ayam dateng sampe si ayam dipanen.
Ini yang terakhir

Namanya EM4, ini probiotik. Larutan EM4 akan disemprotkan apabila kadar amonianya tinggi. Harapannya, probiotik ini akan melakukan proses kimia sehingga amonia dari sekam bisa naik dan kebawa keluar oleh blower.
Ini yang bisa aku ceritain soal kandangnya. Selanjutnya, aku akan cerita-cerita soal…
Aktivitas kami
Hari pertama kami dateng telat, jadinya kami ikut shift kerja yang siang mulai jam 1 sampe jam setengah 4. Saat itu kami langsung di split jadi 2 kelompok. Aku, Resi, Alysa, dan Silvi langsung cus ke kandang 4. Kami akan bantu-bantu Grading ayam usia 13 minggu. Grading itu adalah meranking ayam. Disini, standarnya kalo beratnya 1,08 kg artinya 1st grade, kalo 1,06 kg itu 2nd grade, dibawah itu masuk afkir.
Proses Grading sendiri ada jadwalnya. Ini ada foto jadwal di kandang 5 yang berhasil aku dapet:

Grading dilakukan 2 kali yaitu waktu ayam umur 5 minggu supaya menyeragamkan berat badan, dengan begitu, diharapkan tidak ada persaingan badan dan semua ayam pertumbuhannya bagus. Nah, grading kedua dilakukan pada saat mau dipanen. Fungsinya yaaaa supaya bisa misahin grade-gradenya.
Proses Grading dilakukan dengan cara sebagai berikut:
Kita jalan ke pens yang ayamnya akan digrading. Kita bentangkan jaring-jaring untuk bikin sekat-sekat pembatas untuk masing-masing grade. Terus kita bentangkan lagi jaring kecil yang warnanya ijo. Ayam-ayam digiring ke dalamnya dan ditimbangin pake ini:

Orang kandang biasanya nyebut ini Salter, lebih mengacu ke merk-nya sih kayaknya. Gambar ini bukan gambar sebenernya, aku nggak sempet foto. Ini dapet dari internet. Di timbangan yang digunakan di farm, skalanya 20 gram.
Timbangan ini digantungkan di langit-langit kandang, terus ntar ayamnya digantung kakinya digantungan yang bawah itu. Kalo di sana sih gantungan bawahnya udah diganti pake tali yang ujungnya disimpul.
Setelah ayam dipisah-pisah berdasarkan Grade, tugas kami selesai. Kami disuruh istirahat karena malemnya kami diwajibkan untuk bantu-bantu panen.
Panen ayam biasanya sekitar jam 8 ke atas, tergantung truk-nya dateng jam berapa. Untuk panen 1 truk sendiri disebut 1 rit. Dan hari itu ada 2 rit yang harus dipanen… Kira2 2000an ayam 13 minggu yang akan dipanen, lah!
Pengalaman pas panen ini adalah, pas panennya dimulai, mas2 yang bagian ngambilin ayam ngasih 4 ekor ayam ke kita. Aku langsung menuju truk. Eh, sama Pak Slamet di stop. “Bawanya 8 ekor, dek! Empat di kanan 4 di kiri!” Heeeeehhhhh?? Bawa 8 kilo???? Okelah! Itung2 ngelatih otot tangan. Pengalaman lain adalah ngerasain sakitnya dicakar ayam. Ini bekas lukanya:

Tapi ini sih masih mending… Lah tangannya mas-masnya pada bopeng dan sobek gara-gara dicakarin ayam…
Setelah 1 rit selesai, kami ngumpul di luar sama Pak Slamet, diajarin caranya ngitung korelasi box dan jumlah ayam yang dikirim.
Misalkan yang dateng ada 112 keranjang, sementara yang dikirim 1450 ekor dan 1 keranjang isinya 16 ekor, jadi perhitungannya adalah: 1450: 16= 90,625. Terus 16x90= 1440, jadi yang 10 ekor dimasukin dalam 1 keranjang. Berarti keranjang yang dikirim tetep 112, tapi yang kosong ada 21 keranjang.
Nah, dalam proses panen ini, ada suratnya:

Ini Surat Perintah Penangkapan Ayam (SPPA). Semuanya lengkap harus ditulis disini. Termasuk rincian keranjang dan mekanisme pengisiannya (liat bagian keterangan).
Setelah ngangkat2 ayam ke truk, pada panen rit ke-2, giliran kami yang nangkep-nangkepin ayam. Ribet cuy! Habis panennya gelap-gelap gitu, ayamnya pada tetumpukan dan kita harus langsung megang kakinya.
Inilah suasana panen malam itu:


Panen berlanjut terus sampe tanggal 9 Juli. Dan di malam kedua kami nggak ikut. Gilaran cowok-cowok yang ikut. Malem ketiganya, kami cewek-cewek disuruh ikut, tapi ternyata cuma suruh memantau jumlah keranjang yang kosong.
Di sinilah aku dan sodara sepermagangan, Ibu Gretania Residiwati, berdiskusi soal waktu pemanenan. Ternyata, durasi panen pas cewek-cewek ikutan sama pas enggak, lebih lama pas cewek-cewek ikutan, pemirsa! Hahaha!
Ini pas cowok-cowok pada ngikut:


Ini adalah truk ayamnya. Pernah liat kan yang begini?
Tugas kami di hari kedua adalah sampling ayam. Caranya sama dengan grading, tapi pensnya nggak dikasih sekat dan per pens pengambilan sample-nya beda. Ada rumus bakunya sih! Jadi, jumlah sample yang diambil adalah 2% dari populasi. Itu artinya di pens 1 ada 100 sample, pens 2 dan 3 diambil 300 sample. Sampling ini dilakukan di umur 7 minggu dan tujuan dari sampling sendiri adalah mengetahui uniformity pada setiap pens. Apa itu Uniformity? Yuk kita kenalan dulu sama form-nya! (???)

Itu yang angka-angka di kiri yang besar dikali 100 dan yang kecil dikali 1. Mudeng? Jadi misalkan di situ ada angka 4 terus di sampingnya ada angka 0, 20, dst. Itu artinya 400 gram, 420 gram, dst. Masih nggak mudeng? Sudah… Lanjut dulu sanah… Ada tai ayam spesial, tuh!
Jadi, ayamnya di giring ke dalam jaring ijo lalu ditimbang. Nah, hasil timbangannya disebutkan, terus ada yang nyatetin gitu. Form di atas adalah contohnya.
Setelah diisi kayak gitu, kita menghitung uniformity-nya!

Rumus di atas adalah untuk menemukan batas atas dan batas bawahnya. Misalkan pada data diatas. Rata-rata beratnya adalah 555,6 gram. Jadi batas bawah = 555,6-55,56 dan batas atasnya = 555,6+55,56.
Maka, batas atasnya adalah 611,16 atau dibulatkan jadi 620 dan batas bawahnya 500,04 atau ngikut ke 500 gram. Nah, dari semua itu dihitung frekuensinya, terus hasilnya dibagi populasi di kali 100%.
![]()
Semakin dekat dengan 100% uniformity-nya, semakin bagus.
Ada kejadian yang cukup menyakitkan ketika kita sampling. Ayamnya mati 8 ekor karena tindih-tindihan. Ini karena pas masukin ayam ke jaring, ayamnya kebanyakan. Jadilah menera numpuk2 di pojokkan dan yang bawah pada mati… :(
Tugas kami berikutnya adalah bantu bersihin bell drinker dan nyuci feeder pan. Aku sama Resi bersihin bell drinker di kandang 5, 2 orang di kandang 6, sementara cewek-cewek sisanya di kandang 3 nyuci feeder pan. Pas kami udah selesai, kami cus ke kandang 3. Resi ikut nyuci. Aku? Aku ngeliatin aja. Mual liat cucian segitu banyak.

Dan inilah jumlah feeder pan yang sudah mereka cuci:

Kalian emang luar biasa, teman-teman… #pukpukatuatu
Hari berikutnya, kami masih bergumul sama grading. Tapi kali ini, kami juga ditugaskan ngitung ayam yang 2nd grade sama afkir. Ini lumayan bikin capek. Tapi seru. Hahaha.
Hari senin. Saatnya vaksinasi!!!!
Yak! Seperti yang udah kami denger sejak jaman kapan, hari senin tanggal 9 kemaren emang waktunya vaksin untuk kandang 5 dan 6. Sebenernya, harusnya sih udah tanggal 6-7 Juli. Tapi diundur, soalnya si ayam habis sakit. Jadi imunitasnya belom bagus, ntar kalo kena vaksin malah mati…
Jadilah kami dengan semangat membara, setengah 8 udah siap-siap ikutan vaksin. Eh ternyata eh ternyata… Tim-nya di split lagi jadi 2 bagian. Aku dan 4 temanku yang lain bagian vaksin, sementara yang 4 lagi ke kandang 4. Pertamanya, kami ngeliatin persiapan vaksinnya aja.

Ini container obat-obatannya

Kalo ini alat suntiknya. Orang di farm nyebutnya ini Socorex, sesuai sama merk-nya, sih! Cara penggunaannya? Vaksin yang cair agak kental gitu disedot ke tabung via selang.


Ini adalah meja vaksinasinya. Yang duduk di kursi situ ntar ada 3. Yang paling kanan vaksin tetes (ND live), yang tengah vaksin Coryza, dan yang paling kiri vaksin ND kill. Coryza dan ND Kill disuntikin di dada.
Vaksinasi dilakukan selama 2 hari untuk satu kandang, jadi dalam 1 hari, targetnya harus 13.000 ekor ayam yang tervaksinasi.


Awalnya kami cuma bantu ngangkat-ngangkat. Terus aku mulai netesin, eh di tawarin mas-nya buat nyuntik. Awalnya aku nolak. Tapi mas-nya bilang, “Kalo nggak dicoba mana bisa, mbak?”. Kalimat ini jadi semacam cambuk untukku. Mas Udin -Mas yang bilang gitu tadi- ngajarin aku nyuntik. Dan disinilah terjadi tragedi kegores jarum suntik sampe berdarah-darah dan bikin orang sekandang panik, takut aku infeksi. Untuk cuma kegores, nggak sampe masuk vaksinnya.. Fiuuuhhh…
Anyway, pengalaman nyuntik ini luar biasa buat aku. Semacam kuliahku di FKH selama 4 semester itu udah resmi.
Tapi pas giliran aku suruh ngambil darah dari vena sayap, aku nggak bisa dan akhirnya berhenti nyoba… Payah!

Ini aku lagi netes di hari kedua. Perasaan pas difoto aku udah liat kamera… Kok ini meleng ya?
Untuk saat ini, ini dulu deh yang bisa aku sampaikan. Di bagian mendatang, aku akan share masalah belajar penyakit dengan nekropsi dan cerita dibalik cerita. Stay Tune. Viva veteriner!