Extraordinary Anggik!

Fujoshi. Blackjacks. Live my dream as a nutritionist by studying veterinary.
Welcome to my world. Enjoy! ^^
Posts tagged "fiksi"

Dingin AC menerpa. Kuyakin kau juga merasakannya. Aku sedang membaca. Namun sesungguhnya aku sedang menyibukkan diri. Kedua lubang telingaku tersumbat earphone. Benda berkabel itu menghantarkan alunan suara dari mp3 yang sedang kuputar.

Namun sepi tak dapat berbohong…

Read More

‘Jatuh cinta itu menyenangkan, Ketika kau jatuh pada orang yang tepat.’
Flavour Of Love Chapter 3-diyayee

“Besok bawakan kotoran anjing padaku!” pinta Seunghyun dingin.

“Eh? Untuk apa, Oppa?” tanya Jiyong polos. Matanya mengerjap lucu.

“Besok ada praktikum. Aku males cari bahannya!”

Jiyong berpikir sebentar, sebelum akhirnya mengangguk semangat. “Baiklah!”

Read More

Jangan suka mempermainkannya, Seunghyun! Bagaimana kalau dia tidak tahan lagi dan meninggalkanmu?

Read More

Oke, ini adalah cerpen yang awalnya, adalah fanfict Roleplay by aku dan twinsista… Ceritanya dirubah dikiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit…

Enjoy…

“Kenapa?”gadis itu berucap lirih ketika Raja memeluknya erat. Pemuda itu dapat merasakan aura gelap yang menguar dari tubuh sang tunangan. Sementara gadis itu menggigit bibir bawahnya, menyembunyikan getaran marah yang sebenarnya sudah memuncak sampai kepalanya. Dengan sekuat tenaga, sang gadis melepaskan lengan kokoh Raja yang mendekapnya.

Read More

Kok aku sedih? Kok aku galau? Dia lo bukan siapa-siapaku! Ketemu aja belom pernah, kenal aja enggak! Dia aja nggak tau namaku! Tapi kok aku sedih? Kok aku galau? Kenapa aku mesti ngerasa down waktu liat variety show yang dia lakoni sama salah satu member girlband…

Kenapa ini? Kok rasanya kayak… JATUH CINTA?

Hari berganti. Aku masih setia mengikutinya kemanapun dia pergi. Kali ini dia berjalan ke sebuah cafe di dekat dorm-nya. Dengan penyamaran lengkap, aku mengikutinya sekitar 100 meter di belakangnya. Semua berjalan seperti biasa, termasuk kepekaannya terhadap keadaan sekitar.

Ya, dia menyadari kehadiranku. Dan dia selalu membiarkanku mengikutinya.

Apa maunya pemuda ini?

Dan sedikit saja aku meleng, aku kehilangan jejaknya. Apa dia berubah invisible?

Aku celingukan mencarinya. Dimana orang ini?

Ketika aku berbalik, ada dada bidang yang terbungkus T-Shirt di depan mataku.

“Aaa!” jeritku kaget. Aku mendongak, mencari tahu siapa pemilik dada ini. Dan, yeah, seperti yang kalian sudah duga, pemuda itulah yang berdiri di hadapanku. Idol, leader multilingual boy band Shin Soo Hyun.

Wajahku merah, sementara wajahnya terlihat heran. “Kukira yang mengikutiku selama ini adalah seorang gadis,” ujarnya. Weh? Dia kira aku laki-laki? Apa suaraku barusan yang menyebabkannya berkata seperti itu?

Aku diam saja. Tidak ada suara yang mau keluar. Tiba-tiba tangannya terulur, melepas Hoodie yang menutupi wajahku. Tentu saja aku kaget, tapi sial! Tubuhku tidak bisa bergerak! Aromanya membiusku.

“Manis,” ucapnya. Hah?

Jantungku berdetak sangat cepat. Segera kupakai kembali hoodie-ku. “Maaf mengganggu! Permisi,” pamitku. Aku berjalan melewatinya dengan semburat merah di pipi.

“Namaku Shin Soo Hyun, kalo kau ingin tahu,” ujarnya.

Aku menoleh sebentar padanya. “Ya, aku tahu!”

Aku berjalan menjauhinya, masih dengan semburat merah di pipi.

Cast: Shin Soo Hyun, Kim Hyo Rin

“Hyo?”

“Hem?”

“Diiiingggiiiin!!!” rengek Soo Hyun kepada roomate-nya yang sedang bergelut dibalik selimut. Hujan deras memang sedang mengguyur daerah tempat tinggal mereka, menyebabkan temperatur menurun dengan cepat.

“Pakai selimut sana, Oppa!” ujar Hyo Rin cuek. Jemarinya lincah mengetik SMS.

“Kurang hangaaaattt!” pemuda 23 tahun itu mengerucutkan bibirnya. Sementara Hyo Rin menghela nafasnya.

“Akan kuambilkan selimut tambahan,” Hyo Rin sudah bersiap berdiri. Dan ketika itulah Soo Hyun mendekapnya, lalu membawa tubuh mereka berdua ke dalam selimut.

“Aku ingin begini saja,” ujar Soo Hyun. Dia memejamkan matanya.

Sementara Hyo Rin seperti baru saja menatap mata medusa, membatu. Denyutan jantungnya naik, membuat dadanya seperti akan jebol. Wajahnya memerah, efek dari pompa darah yang terfokus ke daerah itu.

Ini bukan pertama kalinya Soo Hyun memeluk tubuhnya, tapi ini pertama kalinya semenjak dia menyatakan perasaannya pada pemuda ini… Dan ditolak.

Keduanya tenggelam dalam lautan keheningan. Tidak ada yang membuka mulut, hanya suara hujan yang terdengar. Sampai…

Oppa?”

“Ya?”

“Apa Oppa sedang rindu pada wanita itu?” tanya Hyo Rin lirih.

Soo Hyun diam. Tangannya mulai bergerak mengelus rambut Hyo Rin.

“Nggak tuh! Kenapa?”

“Nggak papa,” cicit Hyorin. Aroma tubuh Soo Hyun membuatnya terbuai, mengalahkan aroma petrichor yang selalu menjadi favoritnya ketika hujan turun seperti saat ini.

Keheningan menyelimuti mereka lagi. Tubuh Hyo Rin kaku. Dalam pikirannya berbagai hal muncul silih berganti.

Kenapa Soo Hyun memeluknya? Apakah Soo Hyun menyukainya? Apakah ini hanya pelukan biasa? Lalu kenapa dia Hyo Rin tidak bisa biasa saja?

Kenapa jantungnya berdetak lebih kencang? Kenapa dadanya jadi sesak? Kenapa… Kenapa sepertinya pelukan ini memberi harapan untuknya?

Dada Hyo Rin makin sesak, dan kesesakan itu serasa menghimpit tenggorokannya, membuatnya terasa tidak enak. Hyo Rin dapat merasakan air menggenang di pelupuk matanya.

Betapa ia ingin waktu berhenti sekarang ini, agar dia tetap berada dalam pelukan pria yang dicintainya.

Namun, mendadak sebuah rasa takut menguasai hatinya. Harapannya memang sudah pupus, tetapi dengan pelukan ini… Seolah-olah harapannya tumbuh kembali. Apa ini hanya harapan sesaat?

Soo Hyun memejamkan matanya, menikmati kehangatan yang melingkupinya.

“Jangan memelukku kalau Oppa tidak mencintaiku! Jangan memberiku harapan palsu, Oppa…” ujar Hyo Rin lirih. Airmatanya sudah tak terbendung lagi. Dia menggigit bibir bawahnya agar tidak terisak.

Keheningan kembali menyelimuti mereka. Suara hujan terdengar lebih keras. Petrichor memasuki cavum nasi mereka. Soo Hyun diam, benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Dia bahkan tidak tahu kenapa dia memeluk Hyo Rin. Dia hanya INGIN memeluk gadis itu.

Soo Hyun merasakan dadanya basah. Gadis itu sedang menangis dalam diam.

Mianhae, Hyo!” ucap Soo Hyun lirih.

Hyo Rin tidak membalas. Airmatanya terus keluar, sekuat apapun dia menahannya.

Di kampus itu, ada sebuah kantin yang seluruh dindingnya terbuat dari kaca. Kantin ini digemari mahasiswa karena dekorasinya yang bagus dan sangat modern, sesuai dengan jiwa muda mahasiswa. Biasanya kantin ini selalu ramai. Mahasiswa dari fakultas-fakultas yang terdekat dengan kantin akan makan disini. Itu biasanya.

Kini, kantin ini sedang sepi. Sangat sepi. Wajar, ini masih pagi. Para mahasiswa baru saja memulai kuliahnya. Kecuali Youngwoon.

Read More

This is my very first Boys Love Story. Udah lama bikinnya, tapi di taroh di multiply.  Karena kangen, jadi aku post di tumblr… ^^

Dapat dibaca juga disini: http://phice.multiply.com/journal/item/62/Pulang

Pagi-pagi seperti ini memang menyenangkan. Kopi, Roti bakar, bahkan alkohol 70% dan peralatanku yang siap di sterilisasi turut menemaniku di ruang tamu. Suara pintu dibuka membuatku beranjak dari ketenangan pagi.
Penghuni kamar no. 304, keluar bersusah payah. Usdi menggendong jenazah Fadin keluar kamar. Gate, penghuni kamar 306 ikutan keluar dan menawarkan bantuan. “Can i help you?” ujarnya. Tapi Usdi menggeleng. Dan matanya berkaca-kaca. Belum pernah kulihat dia menahan tangis seperti ini. Saat Usdi melewatiku, aku keluar, menutup pintu kamarku dan mengikutinya.


Seminggu yang lalu….
 

Read More

Onkey. Genderswitch.

Mendapatkanmu adalah ambisi…

“Jinki!” pekikmu saat malam ini aku datang ke rumahmu. Kau berlari keluar, tanpa alas kaki, menyambutku dalam pelukan. Ah… Aroma Vanilla yang memabukkan.

“Pulang kapan? Kok nggak bilang?” tanyamu. Aku tersenyum saja. Mataku menelusuri penampilanmu malam ini. Kau memang tidak pernah berubah sejak kita kecil dulu, kaos kebesaran, celana pendek selutut, rambut bergelombangmu yang dibiarkan tergerai. Kau… Makin cantik.

Kaulah Key-ku. Sahabatku sejak kecil. Objek mimpi basahku yang pertama. Orang yang menolak pernyataan cintaku beberapa minggu yang lalu.

Read More